Senin, 04 Juni 2012

Hipotesis dan definisi operasional


HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL


1.      Hipotesis
1) Definisi Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam, 2003;55)
Hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil dari suatu penelitian (Yatim Riyanto, 2001;16)
Hipotesis adalah tiap pertanyaan tentang suatu hal yang bersifat sementara yang belum dibuktikan kebenarannya secara empiris (Nasution, 2003;39)
Dari tiga pengertian hipotesis diatas dapat disimpulkan hipotesis adalah dugaan sementara yang bersifat sementara yang masih dibuktikan kebenarannya melalui suatu penelitian.

2)  Macam – Macam Hipotesis
            Menurut Yatim Riyanto, (2001;17), macam – macam dari hipotesis adalah :
(1) Hipotesis dilihat dari kategori rumusannya
                  Hipotesis dilihat dari kategori rumusannya dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Hipotesis nihil (Ho)
Hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
Contoh : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
2.      Hipotesis alternatif (Ha)
Hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
Contoh : Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa.
Menurut ( Freankle and Wallen 1990 : 42 ) Hipotesis alternatif ada dua macam, yaitu Directional Hypotheses dan Non Directional Hypotheses.
(1)       Hipotesis terarah (directional hypoteses ) adalah hipotesis yang di ajukan oleh peneliti, dimana peneliti sudah merumuskan dengan tegas yang menyatakan bahwa variabe independen memang sudah di prediksi berpengaruh terhadap variabel dependen.
(2)       Hipotesis tak terarah (non directional hypoteses ) adalah hipotesis yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. ( Riyanto, yatim. Hal 17 -18 )
(2) Hipotesis dilihat dari sifat variabel yang akan diuji
Dilihat dari sifat yang akan diuji, hipotesa penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.  Hipotesis tentang hubungan
Hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih.
Contoh : Ada perbedaan prestasi belajar siswa SMA antara yang diajar dengan metode ceramah dan tanya jawab serta metode diskusi.
Hubungan antara variabel tersebut dapat di bedakan menjadi tiga, yaitu :
1) Hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik
Contoh :Hubungan antara kemampuan fisika dengan kimia
2) Hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik
Contoh : hubungan antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha. Semakin tinggi tingkat kekayaan, semakin tinggi tingkat kelancaran usahanya, dan sebaliknya.
3) Hubungan yang menunjuk pada sebab akibat tetapi tidak timbal balik
Contoh : hubungan antara waktu PBM, dengan kejenuhan siswa. Semakin lama waktu PBM siswa semakin jenuh terhadap pelajaran yang di sampaikan.

2. Hipotesis tentang perbedaan
Hipotesis yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda.
Contoh 1 : ada perbedaan prestasi belajar siswa SMA antara yang di ajar dengan metode ceramah + tanya jawab ( CT ) dan metode diskusi ( penelitian eksperimen ).
Contoh 2 : ada perbedaan prestasi belajar siswa SMA antara yang berada di kota da di desa ( penelitian komparatif )

 (3) Hipotesis yang dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji
Ditinjau dari keluasan dan lingkupnya, hipotesis dapat dibedakan menjadi :
1. Hipotesis Mayor
Hipotesis yang mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh subyek penelitian.
Contoh : Ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP.
2. Hipotesis Minor
Hipotesis yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub dari hipotesis mayor.
Contoh :
1) Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua denganprestasi belajar  siswa SMP.
2) Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan prestasi Belajar siswa SMP.
3) Ada hubungan antara kekayaan orang tua dengan prestasi Belajar siswa SMP.

Jenis – jenis hipotesis di atas dapat divisualisasikan sebagaimana skema berikut








 






katago







 













3)  Syarat – Syarat Hipotesis
Menurut  Nursalam, ( 2001; 58), syarat – syarat hipotesis adalah :
(1) Relevance : Hipotesa harus relevan dengan fakta yang akan diteliti.
(2) Testability : Memungkinkan untuk melakukan observasi dan bisa diukur.
(3) Compatibility : Hipotesa baru harus konsisten dengan hipotesa di lapangan yang sama dan telah teruji kebenarannya, sehingga setiap hipotesa akan membentuk suatu sistem.
(4) Predictive : Hipotesa yang baik mengandung daya ramal tentang apa yang akan terjadi atau apa yang akan ditemukan.
(5) Simplicity : Harus dinyatakan secara sederhana, mudah dipahami dan dicapai.

Menurut ( Nazir, M. 1988 hal 184 ), syarat – syarat hipotesis adalah :
Hipotasa harus merupakan pernyataan terkaan tentang hubungan – hubungan antar variabel. Ini berarti bahwa hipotesa mengandung dua atau lebih variabel yang dapat di ukur ataupun cara potensial di ukur. Hipotesa harus cocok dengan fakta artinya, hipotesa harus terang. Kandungan dan konsep dan variabel harus jelas. Hipotesa harus di mengerti, dan tidak mengandung hal – hal yang metafisis.

4) Ciri – Ciri Hipotesis yang Baik
Menurut Donald Ary,et.al (dalam Arief Furchan, 1982:126-129) adalah:
(1)   Hipotesis harus mempunyai daya penjelas.
Suatu hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya dijelaskan atau diterangkan.
(2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel.
Suatu hipotesis harus memprediksi hubungan antara dua atau lebih variabel.
(3)   Hipotesis harus dapat diuji.
(4)   Hipotesis yang diajukan peneliti harus bersifat testability artinya terdapat kemampuan untuk dapat diuji.
(5)   Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada.
(6)  Hipotesis hendaknya tidak bertentangan dengan teori atau hokum-hukum yang sebelumnya sudah mapan.
(7)   Hipotesis hendaknya sesederhana dan seseringkas mungkin.


Menurut M. Nazir 1988 ( hal 183 ) mengatakan bahwa hipotesis yang baik mempunyai ciri – ciri berikut :
1) Hipotesa harus menyatakan hubungan
2) Hipotesa harus sesuai dengan fakta
3) Hipotesa harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dan tumbuh dengan ilmu pengetahuan
4) Hipotesa harus dapat di uji
5) Hipotesa harus sederhana
6) Hipotesa harus bisa menerangkan fakta.

5) Sumber Hipotesis
Menurut Cholid Narbuko (2001;143), sumber hipotesis adalah :
(1) Dari peneliti sendiri
                 Yaitu dari sumber pengetahuan umum peneliti mengenai bidang yang akan ditelitinya.
(2) Dari teori dan konsepsi
Yaitu bahwa teori-teori dan konsep-konsep yang sudah ada lalu dikendalikan sedemikian rupa sehingga dapat dibentuk suatu hipotesis penelitian.
(3) Hasil penelitian terdahulu
Yaitu hasil-hasil penelitian yang sudah ada disusun kembali menjadi hipotesis yang kemudian diuji kembali kebenarannya.

Menurut MOH. Nadzir 1988 ( hal 186), menentukan suatu hipotesa memerlukan kemampuan si peneliti dalam mengaitkan masalah – masalah dengan variable – variable yang dapat diukur dengan suatu kerangka analisa yang dibentuknya. Menggali dan merumuskan hipotesa mempumyai senimya sendiri. Si peniliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan –hubungan yang terjadi dapat di terka. Dalam menggali hipotesa, si peneliti harus  :
            (1)        Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin di pecahkan dengan jalan banyak membaca literature – literature yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang di laksanakan.
(2)        Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat – tempat, objek – objek serta hal –hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang di selidiki.
(3)        mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Sedangkan menurut Good dan Scates ( 1954 ) memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesa, yaitu :
(1)     Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu
(2)     Wawasan, serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan
(3)     Imajinasi atau angan – angan
(4)     Materi bacaan dan literature
(5)     Pengetahuan tentang kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
(6)     Data yang tersedia
(7)     Analogi atau kesamaan

Menurut cholid narbuko, (2001;144) Sumber – sumber yang dapat menyebabkan tidak terbuktinya hipotesis
(1)             Landasan teori
Bila landasan teori yang digunakan sudah kadaluarsa, kurang valid atau kurang relevan diterapkan maka manjadi salah.
(2)                Kesalahan sampling
Keadaan ini terjadi bila sampel yang di ambil tidak representatif baik karena terlalu kecil maupun kurang merata, sehingga tidak mencerminkan karakteristik dari populasi.
(3)        Kesalahan alat pengambilan data
Jika alat pengambilan datanya tidak valid atau tidak reliabel maka hal yang benar akan terlihat palsu, sedang yang palsu terlihat benar. Apabila keadaan ini terjadi maka hipotesis dengan sendirinya menjadi tidak terbikti.
(4)        Kesalahan penghitungan
Walaupun metode dan rumus yang di gunakan sudah benar, tetapi kalau terjadi kesalahan dalam menghitung akan menjadikan hipotesis salah, meskipun kebenarannya hipotesis tersebut sudah benar.
(5)        Kesalahan rancangan penelitian
Rancangan penelitian adalah semacam strategi dan pedoman untuk menentukan langkah – langkah penelitian guna menguji hipotesis. Apabila rancangan salah sudah tentu hipotesisnya menjadi tidak terbukti.
(6)                Pengaruh variabel luaran ( extraneous variabel) tetdapat data yang sangat kuat, sehingga data yang dikumpulkan bukan data yang dimaksut, maka hipotesis akan tidak terbukti.


2. Definisi Operasional
1)   Definisi Dari Definisi Operasional
Definisi operasional ialah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau “mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain”. Penekanan pengertian definisi operasionreal ialah pada kata “dapat diobservasi” (Young, dikutip oleh Koentjarangningrat, 1991;23).
Definisi Operasional ialah semua variable dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional, sehingga mempermudah pembaca / penguji dalam mengartikan makna penelitian.(Nursalam & Sisi Paniani, 2000;107)

2)   Syarat Definisi Operasional
Menurut  Nursalam (2003;105) bahwa syarat definisi operasional :
(1) Definisi harus dapat dibolak – balikan dengan hal yang didefinisikan (luas keduanya harus sama)
(2) Definisi tidak boleh negatif. Misal, kepuasan adalah tidak senang
(3) Apa yang didefinisikan tidak bleh masuk dalam definisi. Misal, kepuasan adalah rasa puas yang dirasakan seseorang terhadap.....
(4) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang kabur (ambigous). Misal, kepuasan adalah rasa batin yang bersifat individual.....

3)   Cara Membuat Definisi Operasional
Menurut (Muh.BasirunAlUmmah, 2009) ada tiga pendekatan untuk menyusun definisi operasional, yaitu disebut Tipe A, Tipe B dan Tipe C.


(1)  Definisi Operasional Tipe A
Definisi operasional Tipe A dapat disusun didasarkan pada operasi yang harus dilakukan, sehingga menyebabkan gejala atau keadaan yang didefinisikan menjadi nyata atau dapat terjadi. Dengan menggunakan prosedur tertentu peneliti dapat membuat gejala menjadi nyata.
(2)  Definisi Operasional Tipe B
Definisi operasional Tipe B dapat disusun didasarkan pada bagaimana obyek tertentu yang didefinisikan dapat dioperasionalisasikan, yaitu berupa apa yang dilakukannya atau apa yang menyusun karaktersitik-karakteristik dinamisnya.
(3)  Definisi Operasional Tipe C
Definisi operasional Tipe C dapat disusun didasarkan pada penampakan seperti apa obyek atau gejala yang didefinisikan tersebut, yaitu apa saja yang menyusun karaktersitik-karaktersitik statisnya.

Menurut ( Nursalam. 2000 : 44 ), Variabel yang telah di definisikan perlu di definisikan secara operasional, sebab setiap istilah ( variable ) dapat di artikan secara berbeda – beda oleh orang yang berlainan. Penelitian adalah proses komunikasi dan komunikasi memerlukan akurasi bahasa agar tidak menimbulkan perbedaan pengertian antar orang dan agar orang lain dapat mengulangi penelitian tersebut. Jadi definisi operasional dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi dan replikasi.
Ada berbagai cara untuk mendefinisikan suatu variabel. Adakalanya definisi tersebut sekedar sinonim atau konseptual. Sinonim dari suatu variabel biasanya dapat ditemukan di buku teks. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang di amati dari suatu yang di definisikan tersebut. Karakteristik yang dapat di amati ( di ukur ) itulah yang merupakan kunci definisi operasional. Dapat di amati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukn observasi atau pengukutran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena yang kemudian dapat di ulangi lagi oleh orang lain. Sebaliknya definisi konseptual mendeskripsi sesuatu berdasarkan kriteria konseptual atau hipotetik dan bukan pada ciri – ciri yang dapat di amati.







Menurut  Nursalam ( 2003;105) .Langkah – langkah PenyusunanDefinisi (jika definisi suatu istilah sangat kompleks).
Konsep
Dimensi
Indikator
Definisi
Kepuasan


Perasaan senang seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesenangan terhadap aktifitas dan suatu produk dan harapannya
Meningkatnya kepuasan


Pencapaian kesenangan seseorang terhadap suatu aktifitas yang dilakukan
Persepsi terhadap pelayanan
1.   Kehandalan
2.   Daya tanggap
3.   Kepastian
4.   Empati
5.   Berwujud
1.      Sesuai, akurat, konsisten
2.      Cepat, mendengar, mengatasi keluhan
3.      Keyakinan, kepercayaan
4.      Peduli, perhatian
5.      Penampilan fisik: peralatan, materi dan SDM
Tanggapan seseorang (pelanggan : pasien, keluarga, masyarakat) terhadap suatu kegiatan diterima dari produser (Institusi : RS, Pendidikan dll)



Menurut ( Wasik, Ahmad. 2001 : 44 - 45 )Ada dua cara nengekspresikan variabel secara operasional, yaitu cara langsung dan cara tidak langsung.
    Cara langsung dilakukan dengan mengekspresikan bagaimana cara pengukuran variabel, dalam buku – buku metodologi cara ini disebut measured operasional definition. Untuk cara pendefinisian ini, maka peneliti harus mengingat apakah variabel yang dihadapi hanya mempunyai satu pengertian atau berinterpretasi ganda, dan kalau ganda pengertian mana yang sesuai dengan landasan teori yang dikembangkan.
Berikut ini di contohkan variabel yang berinterpretasi ganda :
1.         “ Status gizi”, dapat diukur dengan bermacam kombinasi pengukuran, seperti :
1)   Berat ( BB ) dengan tinggi badan ( TB )
2)   BB dengan usia
3)   BB, TB, dengan usia
4)   Tebal lipatan kulit total dengan usia
5)   Persentasi lemak tubuh total
6)   Kadar protein serum
7)   Dan sebagainya
2.         “ kesembuhan “, yang dimaksud apakah kesembuhan klinik, laboratorik, sosial, atau subyekti, penderita ?
      Cara tidak langsung di lakukan dengan mengekspresikan kriteria manipulasi terhadap variabel, dan cara memonitir atau mengukur efek dari manipulasi tersebut ( experinemtal operational definition ).
Contoh :
1)      “ kemampuan jantung “ : penambahan detik nadi yang terjadi setelah subjek melakukan loncat – loncat sebanyak.....kali dalam....menit
2)      “ Urine residu “ : banyaknya urin yang di peroleh pada kateterisasi setelah penderita disuruh miksi sepenuhnya.
Di depan telah dikemukakan, bahwa operasionalisasi hipotesis mengandung maksud agar hipotesis dapat di jabarkan kedalam variabel – variabel penelitian sedemikian rupa, sehingga (1) variabel bersifat spesifik dan terukur, serta (2) korelasi ( baik dalam bentuk sebab akibat, perbedaan, maupun korelasi arti sempit ) dapat di uji.
Dalam kaitan tersebut, maka definisi operasional variabel penelitian, disamping memenuhi ciri perumusan seperti di bahas di atas, juga harus di deskripsikan variabel menurut (a) macam atau sifatnya sesuai dengan tingkat pengukuran ( level of measurement ), dan (b) menurut kedudukannya dalam model kerangka teoritiknya ( time ordering).




DAFTAR PUSTAKA


Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi,Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika
Nursalam dan Siti Pariani. 2000. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.
J.BRINK, Pamela dan J.Wood, Marielyn. 2000. Langkah Dasar Dalam Perencanaan Riset Keperawatan edisi IV. Jakarta : EGC
Narbuko, cholid. 2001. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Bumi Aksara
Riyanto, Yatim M, Drs, Dr. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : SIC
Nasution MA, S, Prof, Dr. 2003. Metode Research. Jakarta : Bumi Aksara
Al Ummah, H. Muh Basirun, M.Kes.19 April 2009. Diunduh dari :http://defoder.blogspot.com/
http://js.unikom.ac.id/rb/bab8.html/




















 Contoh Hipotesis
Menurut  Cholid Narbuko ( 2001;172), contoh hipotesis adalah :
(1) Desa sebagai suatu organisasi masyarakat yang paling besar sebagai alat untuk mencapai tujuannya harus memiliki administrasi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan dinamika masyarakat, terutama dalam masyarakat yang sedang membangun.
(2) Organisasi Desa yang terdiri dari sekumpulan jabatan dan hakikatnya diduduki oleh orang-orang yang dipercayakan dengan dilengkapi wewenang dan kekuasaan; seyogianya mereka memiliki kecakapan, keteramplan dan pengetahuan administrasi, sehingga membantu mengatasi kesulitan-kesulitan dalam penyelenggaraan tata kehidupan masyarakat dan urusan rumah tangga desa ke arah tingkat optimal.

Menurut ( Notoatmodjo, soekidjo. 2002 : 75 – 76 )
1.        Contoh hipotesis kerja
1)      Jika sanitasi suatu daerah buruk, maka penyakit menular di daerah tersebut tinggi
2)      Jika persalinan di lakukan oleh dukun yang belum di latih, maka angka kematian bayi di daerah tersebut tinggi.
3)      Jika pendapatan perkapita suatu darah rendah, maka status kesehatan masyarakat di negara tersebut rendah pula.
2.        Contoh hipotesis nol
1)      Tidak ada perbedaan tentang angka kematian akibat penyakit jantung antara penduduk perkotaan dengan penduduk pedesaan.
2)      Tidak ada perbedaan antara status gizi anak balita yang tidak mendapat ASI pada waktu bayi, maka status gizi anak balita yang mendapat ASI pada waktu bayi.
3)   Tidak ada perbedaan angka penderita sakit diare antara kelompok penduduk yang menggunakan air minum dari PAM dengan kelompok penduduk yang menggunakan air minum dari sumur.
Contoh – contoh tersebut menunjukkan bahwa kedua kelompok yang bersangkutan adalah sama, misalnya dari status gizi dari balita yang mendapatkan ASI sama dengan status gizi anak balita yang tidak mendapatkan ASI. Bila hal tersebut di rumuskan dengan “selisih” maka akan menunjukkan hasil dengan nol maka di sebut hipotesis nol.


Di bawah ini beberapa contoh rumusan hipotesa serta hubungannya dengan judul penelitian dan judul penelitian menurut Moh. Nazir (1988; 193)
JUDUL PENELITIAN
TUJUAN PENELITIAN
HIPOTESA
Peningkatan usaha kerajinan genteng dalam rangka penyerapan tenaga kerja dan penambahan pendapatan keluarga tani di Desa Berjo, Kecamatan Bodean Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
a)      Memperoleh gambaran sampai seberapa jauh pengangguran musiman dapat diserap oleh kerajinan genteng.


b)      Mengetahui besarnya sumbangan usaha kerajinan genteng terhadap pendapatan total usaha tani.
c)      Mengetahui apakah usaha kerajinan genteng mempunyai hubungan yang bersifat komplementer ataukah substitusi terhadap usaha tani, padi, dalam hal alokasi pencurahan jam tenaga kerja.
a)  Usaha kerajinan genteng dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan total kelurga petani, lebih besar daripada sifatnya yang sekarakter.
b)  Alokasi pencurahan jam tenaga kerja di sector usaha tani padi tanpa genteng masih dapat diperkecil untuk dialihkan ke usaha kerajinan genteng.
Perbandingan biaya dan penerimaan antara pemeliharaan sapi potong secara ekstensif dan pemeliharaan sapi potong secara intensif di kota madya Pare-Pare Propinsi Sulawesi Selatan.
a)      Mengetahui Gross Margin (keuntungan kotor) per ekor ternak yang diperoleh peternak dengan cara pemeliharaan secara ekstensif dan pemeliharaan intensif.
b)      Mengetahui pendapatan bersih (netfarm income) usaha ternak dari kedua cara di atas.
a)  Gross Margin per ekor yang diperoleh dari pemeliharaan secara intensif lebih besar daripada yang diperoleh dari pemeliharaan intensif.

b)  Pendapatan bersih yang diperoleh dari pemeliharaan secara intensif lebih besar daripada yang diperoleh dari usaha pemeliharaan ekstensif.


 Contoh Definisi Operasional
Menurut (Muh.Basirun Al Ummah,2009), apabila seorang peneliti melakukan suatu observasi terhadap suatu gejala atau obyek, maka peneliti lain juga dapat melakukan hal yang sama, yaitu mengidentifikasi apa yang telah didefinisikan oleh peneliti pertama. Sedangkan definisi konseptual, definisi konseptual lebih bersifat hipotetikal dan “tidak dapat diobservasi”. Karena definisi konseptual merupakan suatu konsep yang didefinisikan dengan referensi konsep yang lain. Definisi konseptual bermanfaat untuk membuat logika proses perumusan hipotesa.
Contoh;
Komponen Penyusunan Definisi Operasional adalah;
(1) Variabel (Gagal Ginjal)
(2) Definisi (Adalah suatu kondisi gangguan kesehatan pasien yeng telah ditetapkan oleh dokter mengalami gangguan gagal ginjal).
(3) Hasil Ukur (Hasil dari diagnosa medis terhadap pasien/ responden) dg kriteria jawaban
Diagnosa medis pasien gagal ginjal =Ya
Diagnosa Medis Tidak gagal Ginjal= Tidak
(4) Skala Data (nominal)
(5) Cara ukur (melalui Dokumen Status pasien)

Sebuah Tulisan Definisi Operasional menurut Pamela J. BRINK & Marieynn J. Wood dalam buku Langkah Dasar Dalam Perencanaan Riset, (2000;94-95).
1.      Pertama, tuliskan apa arti istilah (atau veriable) yang berkaitan dengan tujuan penelitian, ini merupakan definisi konseptual dari istilah.
Contoh : Tujuan penelitian ini adalah untuk meyelidiki dan menggambarkan program diet yang berhasil (istilah harus didefinisikan setelah yang digaris bawah)
Program Diet : pembayaran suatu pelayanan berpantang yang didirikan untuk membantuindividu menurunkan berat badan.
Berhasil : Suatu program diet yang memiliki persentase tinggi dimana kliennya dapat mencapai tujuan berat badannya dan tetap menjaga berat badannya selama satu tahun atau lebih.
2.      Kedua, tuliskan bagaimana anda bermaksud untuk meneliti definisi tersebut atau bagaimana anda mengukur variable. Ini merupakan bagian operasional dari definisi istilah.
Contoh : Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menggambarkan Program Diet yang berhasi; (istilah yang didefinisikan adalah yang digarisbawahi)
Program Diet : Pelayanan berpantang dengan biaya, didirikan untuk membantu seseorang dalam menurunkan berat badan seperti terdaftar dalam halaman kuning pada petunjuk telepon Pasifik di barat daya San Fernando Valley.
Berhasil : Program diet yang merupakan persentase tinggi klien dimana pasien dapat mencapai tujuan berat badan mereka dan menjaga berat badannya selama satu tahun atau lebih seperti diukut dengan kuesioner pendiet yang berhasil yang dikirim semua peserta program diet pada tahun sebelumnya.
3.      Gabungan kedua bagian definisi untuk membentuk definisi operasional dari istilah atau variable
Contoh : Program diet yang berhasil :  Pelayanan berpantang dengan biaya diberikan untuk membantu orang untuk menurunkan berat badan, yang mempunyai persentase tinggi pada klien dapat mencapai tujuan berat badan mereka dann tetap menjaga berat badannya selama satu tahun atau lebih seperti diukur dengan kuesioner pendiet yang berhasil yang dikirim keseuma peserta program dari program yang terdaftar pada halaman kuning di Petunjuk Telepon Pasifik di barat daya San Fernando Valley.
4.      Secara operasional definisikan setiap variable utama dalam tujuan penelitian apakah tujuan ditulis sebagai pernyataan, pertanyaan atau hipotesis.
5.      Sampel anda seharusnya tidak didefinisikan secara operasional
6.      Beberapa contoh definisi operasional
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menggambarkan orientasi nilai wanita Hunterian di barat Kanada
Definisi Istilah
Orientasi – orientasi nilai : Suatu instrumen skala ordinal dengan 23 istilah disusun untuk memperoleh kepercayaan seseorang tentang cara terbaik dalam memecahkan empat masalah umum dalam manusia yang mendasar

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan : Apakah terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan strategi koping pasien yang dirawat di rumah sakit.

Definisi Istilah
Tingkat Stres : Angka dan intensitas kejadian dirasakan oleh pasien sebagai akibat ketegangan, yang terjadi selama 12 bulan yang lalu seperti yang diukur dengan skala Holmes dan Rahe ”Significan Life Events”
Strategi Koping : Suatu pola yang biasa dilakukan seseorang untuk adaptasi atau berhubungan denga peristiwa yang menimbulkan stres yang diukur dengan skala peringkat mengevaluasi sejumlah strategi dan frekuensi yang digunakan individu.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah : untuk menguji hipotesis berikut. Para perawat yang telah menjalani pelatihan sikap asertif akan mempunyai peringkat perlindungan pasien yang secara bermakna lebih tinggi daripada yang tidak menjalani pelatihan sikap asertif.
Definisi Istilah
Pelatihan Sikap Asertif : Suatu program yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan individu untuk memilih tingkah laku yang asertif jika dihadapkan pada situasi konflik. Kelompok eksperimental akan menerima program 4 hari dalam pelatihan sikap asertif
Angka Perlindungan Pasien : Suatu skala ordinal dengan 9 item untuk mengukur perasaan tanggung jawab perawat untuk mencegah bahaya pada pasien.


            Contoh dari 3 Pendekatan dalam Menyusun Definisi Operasional yang dikutip dari       (http://js.unikom.ac.id/rb/bab8.html)

1.      Definisi Operasional Tipe A
“Konflik” didefinisikan sebagai keadaan yang dihasilkan dengan menempatkan dua orang atau lebih pada situasi dimana masing-masing orang mempunyai tujuan yang sama,  tetapi hanya satu orang yang akan dapat mencapainya.
2.      Definisi Operasional Tipe B
“Orang pandai” dapat didefinisikan sdbagai seorang yang mendapatkan nilai-nilai tinggi di sekolahnya
3.      Definisi Operasional Tipe C
“Orang pandai” dapat didefinisikan sebagai orang yang mempunyai ingatan kuat, menguasai beberapa bahasa asing, kemampuan berpikir baik, sistematis dan mempunyai kemampuan menghitung secara cepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar